Udara Jakarta Terburuk Ke-3 di Dunia, Begini Cara Menghadapinya!



Belakangan, polusi udara di ibukota negara kita, DKI Jakarta, menjadi sorotan banyak pihak. Sempat menempati peringkat teratas kota dengan polusi paling buruk pada 29 Juli 2019, dengan skor Air Quality Index (AQI) 186, pada 2 Agustus 2019, udara di Jakarta masih saja masuk kategori udah yang tidak sehat, karena menempati urutan terburuk ke-3, dengan skor Air Quality Index (AQI)155. Hal ini menjadi gambaran betapa semakin sulitnya saat ini masyarakat untuk mendapatkan kualitas udara yang baik, khususnya untuk warga ibukota.

Lalu, apa saja yang bisa dilakukan untuk menghadapi dampak polusi udara pada kesehatan tubuh kita? Berikut adalah beberapa di antaranya.

  1. Rutin mengecek pantauan kualitas udara

Saat ini sudah tersedia beberapa aplikasi yang bisa kita gunakan untuk memantau kualitas udara, dan salah satunya adalah AirVisual. Warna dan angka yang tertera pada aplikasi menunjukkan pada penggunanya kualitas udara pada satu waktu, dan dilengkapi dengan perkiraan level polusi pada waktu lainnya.

Kebanyakan dari kita pasti merasa kesulitan untuk sama sekali tidak beraktivitas di luar ruangan, dan karena itulah yang bisa kita lakukan adalah mengaturnya. Jika ingin beraktivitas ke luar rumah, seperti berolahraga misalnya, pilihlah waktu ketika polusi sedang tidak terlalu tinggi.

  1. Sebisa mungkin hindari kepadatan lalu lintas

Sudah bukan rahasia lagi, salah satu penyebab utama polusi udara adalah asap kendaraan bermotor. Semakin tinggi volume kendaraan yang melintas di satu ruas jalan, maka bisa dipastikan tingkat polusi udara di sekitarnya akan semakin tinggi.

Jika jalan yang akan Anda lintasi padat, pilihlah jalan-jalan kecil atau biasa juga disebut jalan tikus. Tujuannya selain untuk menghindari polusi dari kepadatan lalu lintas, Anda juga bisa terhindar dari stres karena harus melintas di lalu lintas yang padat.

  1. Gunakan masker yang sesuai

Mayoritas masker yang dijual di pasaran tidak 100 persen ampuh menangkal polusi. Salah satu contohnya adalah masker bedah warna hijau. Dilansir dari situs tempo.co, dr Agus Dwi Susanto, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPD), menilai masker yang banyak beredar di masyarakat saat ini tersebut tidak mampu menyaring polutan berukuran super kecil.

Dibanding masker hijau, akan lebih baik jika Anda menggunakan masker N95. Masker jenis ini memang harganya relatif lebih mahal, namun lebih efektif untuk menyaring partikel debu.

  1. Pelihara tanaman

Ada beberapa jenis tanaman yang cukup efektif untuk menyerap udara yang tercemar, seperti:

  • Lidah Mertua (Sansevieria Trifasciata). Tanaman ini mampu menyerap berbagai jenis polutan dari udara, seperti karbonmonoksida, nikotin, benzene, formaldehyde, trichloroethylene, dan dioksin.
  • Lidah Buaya. Tanaman ini mampu menyerap benzena, formalin, dan sejumlah bahan kimia lain yang bisa mengontaminasi udara. Tanaman ini juga bisa berfungsi sebagai peninjau kadar polusi. Makin tinggi kadar polutan di sekitar tanaman ini, maka pada permukaan daun-daun lidah buaya akan terlihat bintik-bintik cokelat.
  • Bunga Lili. Tanaman bunga ini mampu menyaring berbagai zat polutan, seperti amonia, benzena, formalin, dan trichloroethylene. Menurut NASA, jenis lili terbaik yang dapat menyaring polutan adalah peace lily, flamingo lily, dan lilyturf.

  1. Perbaiki pola makan Anda

Mungkin banyak dari Anda yang bertanya, apa hubungannya polusi dengan pola makan, memangnya polusinya bisa masuk ke pencernaan? Jangan salah, polusi udara juga berisiko menyumbang radikal bebas pemicu berbagai masalah kesehatan. Penangkalnya tidak lain dan tidak bukan adalah antioksidan, yang bisa kita dapatkan dari rutin mengonsumsi sayur dan buah-buahan.

Agar mendapat manfaat maksimal, sayur dan buah-buahan yang kita konsumsi sudah pasti harus yang masih segar. Membelinya tiap hari dalam kondisi segar di pasar swalayan atau pasar tradisional adalah cara terbaik, namun jika Anda termasuk yang hanya bisa berbelanja kebutuhan sehari-hari tiap seminggu sekali simpanlah sayur dan buah yang Anda beli di kulkas Electrolux NutriFresh™ Inverter. Kulkas ini mampu menjaga kesegaran buah dan sayuran selama 7 hari.

Dengan menyimpan buah dan sayuran kita bisa di kulkas Electrolux NutriFresh™ Inverter, selain kita bisa selalu mengonsumsi makanan lezat dari bahan makanan yang masih segar, kita juga akan lebih siap menghadapi polusi udara Jakarta. 


Beli

Beli Di Toko